
Blue House telah menjadi ikon wisata paling favorit di Korea Selatan. Tak jarang tempat ini selalu menjadi langganan bagi para turis ketika mengunjungi negara ginseng ini. Selain itu, tempat ini memiliki keunikan tersendiri sebagai bangunan yang bersejarah di Korea Selatan. Karena keindahannya, tempat ini juga sekaligus menjadi tempat yang paling penting di Korea Selatan karena fungsinya hingga saat ini.
Terlepas dari itu, Istana Biru hingga kini masih memancarkan pesonanya tersendiri sehingga semakin menjadi tempat yang menarik. Disamping kemegahan bangunannya, Istana ini menyalurkan warna yang eksotis pada saat malam hari. Kecantikan warna dari gedung ini juga didukung dengan pantulan pencahayaan dari lampu-lampunya yang terang sehingga membuat warna dari istana jauh tampak lebih hidup ketika masuk ke malam hari.
Bagi Anda yang berencana untuk berwisata ke Korea Selatan, Blue House dapat menjadi salah satu destinasi favorit Anda. Dalam artikel ini Anda akan mendapatkan beberapa tips mengenai tempat, fakta mengenai istana biru, dan cara bepergian kesana. Landmark dari negeri ginseng ini tentunya menjadi salah satu objek wisata yang tidak boleh Anda lewatkan setelah mengunjungi gemerlapnya kota-kota di Korea Selatan! Berikut adalah pembahasannya secara lengkap!
Apa itu Blue House?
Blue House adalah kediaman resmi Presiden Korea Selatan yang terletak di distrik Jongno, Seoul. Bangunan ini dikenal dengan atap biru khasnya, arsitektur tradisional Korea, dan pemandangan indah menghadap Gunung Bugaksan. Selain sebagai kantor presiden, gedung biru juga menjadi simbol sejarah dan politik negara, serta salah satu destinasi populer bagi wisatawan yang tertarik budaya Korea. Meskipun begitu, sayangnya gedung indah ini kembali ditutup untuk publik pada 25 Desember 2025 setelah dialihfungsikan kembali sebagai kantor kepresidenan.
Kawasan Istana Biru tidak hanya mencakup gedung utama, tetapi juga area taman, kantor administrasi, dan fasilitas keamanan yang ketat. Lokasi strategisnya di pusat Seoul membuat tempat ini mudah diakses oleh masyarakat dan pengunjung. Lokasi tersebut sering menjadi pusat kegiatan nasional, termasuk upacara kenegaraan dan pertemuan diplomatik internasional. Dengan fungsi dan konsep bangunannya, Istana ini memberikan nuansa yang tegas dan juga anggun dari kejauhan.
Bagi pengunjungnya sebelum gedung tersebut ditutup untuk publik, kompleks kepresidenan menawarkan pengalaman melihat arsitektur tradisional Korea dan lanskap sekitarnya yang rapi. Meski akses ke bagian dalam terbatas, pengunjung tetap dapat menikmati area taman dan spot foto ikonik dari luar. Mengetahui sejarah dan fungsi Istana biru menambah nilai kunjungan, menjadikannya tujuan wisata edukatif sekaligus menarik. Tempat ini juga cukup mudah untuk dikunjungi dengan transportasi umum karena posisinya yang juga strategis di ibu kota.
Sejarah berdirinya Blue House
Kompleks ini resmi digunakan sebagai kediaman presiden pada 1948, di atas area yang sebelumnya merupakan bagian dari kompleks kerajaan Dinasti Joseon, dan kemudian digunakan oleh pemerintahan kolonial Jepang. Pendirian kompleks ini meliputi bangunan utama dan sejumlah gedung tambahan yang kemudian direnovasi dan diperluas seiring waktu, menciptakan kombinasi unik antara arsitektur klasik dan modern. Kombinasi tersebut menghasilkan perpaduan sempurna antara atap biru dan dinding putih yang tampak cerah dan elegan.
Selain itu, keberadaan Istana biru menandai pentingnya lokasi ini dalam sejarah Korea. Kompleks ini tidak hanya menjadi landmark arsitektur, tetapi juga simbol budaya yang merefleksikan perpaduan nilai tradisional dan pengaruh modern, menjadikannya salah satu situs paling ikonik di Seoul. Meskipun sempat dibuka ke publik pada tahun 2022, tempat ini kembali menjadi ikon eksekutif bagi Korea setelah lengsernya presiden Yoon Suk Yeol.
Fakta menarik terkait Blue House di Korea Selatan
Blue House adalah kompleks kediaman resmi presiden Korea Selatan yang terletak di utara Istana Gyeongbokgung. Bangunan ini memadukan ciri khas arsitektur pada era kerajaan Joseon dan korea yang modern setelah selesai di renovasi. Kompleks ini mencakup kantor utama, paviliun, gedung tamu, taman hijau, dan tujuh bangunan tambahan yang memiliki desain unik masing-masing.
Setiap bagian Istana Biru memiliki fungsi dan sejarah tersendiri, mencerminkan budaya dan nilai politik Korea Selatan. Keunikannya terlihat dari perpaduan atap melengkung, detail ornament, dan pemilihan warna. Bangunan ini menjadi simbol penting negara dan sering muncul dalam konteks sejarah, pemerintahan, dan arsitektur klasik-modern Korea. Berikut adalah beberapa fakta menarik yang terdapat di dalam kompleks dari lokasi tersebut.
Telah berfungsi menjadi istana pada era Joseon
Blue House memiliki sejarah panjang sejak era Goryeo dan Joseon, dimulai sebagai aula istana yang dianggap sakral. Selama masa Joseon, wilayah ini berada di luar gerbang utara Gyeongbokgung dan menjadi tempat pengikut kerajaan menunjukkan kesetiaan kepada raja. Pada masa Raja Sukjong, lokasi ini dianggap sangat suci sehingga tidak ada raja yang berani menempatinya.
Wilayah ini kemudian dikenal sebagai Gyeongmudae dan digunakan sebagian untuk latihan bela diri. Pada abad ke-19, Bupati Heungseon Daewongun memerintahkan pembangunan kembali Istana Gyeongbokgung yang sebelumnya hancur karena kebakaran. Selama pendudukan Jepang pada tahun 1910 hingga 1945, Cheong Wa Dae menjadi kediaman resmi Gubernur Jenderal Jepang, menambah lapisan sejarah penting pada kompleks ini.
Desain arsitektur yang kompleks
Blue House menampilkan arsitektur kompleks yang terinspirasi dari istana kayu tradisional Korea. Atap limas dan pelana membentuk garis-garis segitiga di puncaknya, menciptakan tampilan yang elegan dan khas. Bangunan utama beserta dua tambahan lainnya ditutupi sekitar 150.000 genteng biru, memberikan warna unik dan ketahanan luar biasa hingga lebih dari 100 tahun.
Genteng biru ini dibuat dengan teknik mirip keramik halus, menjadikannya tahan lama dan mempertahankan warnanya meski terpapar cuaca. Kombinasi struktur tradisional, proporsi harmonis, dan warna atap yang khas menjadikan gedung biru sebagai contoh sempurna arsitektur klasik Korea yang kompleks namun indah. Hal ini menjadikan tempat ini sebagai lokasi yang sempurna sebagai perpaduan alam dan juga kemewahan yang dimiliki oleh manusia.
Interior bangunan yang Mewah
Yeongbingwan Hall, dikenal sebagai “Welcome Guest House,” menonjolkan kemewahan interiornya untuk acara resmi tamu negara. Bangunan ini dibangun dari granit berkualitas tinggi, menghadirkan kesan megah dan kokoh. Pilar-pilar granit yang menopang aula hingga lantai dua menekankan keanggunan serta detail arsitektur tradisional yang rapi, serta tata letak simetris yang menjadikannya simbol kemewahan dan kehormatan.
Selain keindahan pilar, aula ini memiliki ruang luas yang dirancang untuk kenyamanan tamu penting. Kombinasi material premium, tata letak elegan, dan pencahayaan alami membuat interior Yeongbingwan Hall tetap terasa eksklusif dan berkelas, mencerminkan peranannya sebagai tempat resmi yang menawan di kompleks Blue House. Desain bangunan tersebut menjadikannya tempat yang cukup ideal terutama untuk misi-misi atau acara diplomatik bagi Korea Selatan sendiri.
Pohon kuno di Istana
Blue House dikelilingi oleh pohon-pohon tua yang berusia lebih dari 300 tahun, menambah nilai sejarah dan keasrian kawasan. Beberapa pohon ini berada dekat bangunan penting seperti Chunchugwan, gedung konferensi pers, dan Yeongbingwan, ruang resmi untuk tamu asing. Kehadiran pohon-pohon kuno ini menunjukkan keseimbangan antara arsitektur tradisional dan alam di kompleks istana.
Selain memberikan estetika, pohon-pohon tersebut menjadi saksi sejarah yang menyertai perkembangan gedung biru dari era Joseon hingga masa modern. Keberadaan mereka juga membantu menciptakan suasana teduh dan harmonis di sekitar kawasan yang sebelumnya menjadi pusat pemerintahan Korea Selatan. Keberadaan dari pohon-pohon tersebut diketahui masih terdapat di sekitar istana hingga saat ini.
Area pelataran yang sejuk
Pelataran Blue House menawarkan suasana yang sejuk dan menenangkan, dengan latar belakang Gunung Bugaksan yang menambah keindahan pemandangan. Atap biru yang halus dan melengkung menciptakan kesan elegan, sementara area terbuka di sekitar Kantor Pusat, Yeongbingwan, dan Chunchugwan menghadirkan ruang hijau yang luas dan harmonis. Ditambah lagi, Anda juga akan disambut dengan paviliun yang asri di sekitar taman istana.
Selain keindahan visual, pelataran ini juga memadukan berbagai elemen tradisional Korea, termasuk Nokjiwon dan Lembah Mugunghwa. Tata letak yang teratur dan desain bangunan yang khas membuat kawasan ini mencerminkan keseimbangan antara arsitektur dan alam, menjadikannya bagian ikonik dari kompleks Istana Biru. Meskipun Anda tidak bisa mengakses atau memasuki gedung ini secara langsung kembali, akan tetapi semua keindahan tersebut masih dapat Anda rasakan dari luar area Istana.
Menelusuri Gunung Bugaksan di belakang Istana biru
Gunung Bugaksan yang membentang di belakang Blue House menawarkan pengalaman alam yang menenangkan sekaligus menantang. Pendakian ke puncak gunung menjadi daya tarik bagi pecinta alam dan pendaki dengan jalur yang memiliki tingkat kesulitan moderat. Sepanjang perjalanan, pengunjung bisa menikmati pemandangan kota Seoul sekaligus bagian dari Tembok Benteng Seoul yang bersejarah.
Beberapa jalur populer yang bisa dipilih termasuk Jalur Baegak, dimulai dari Gerbang Changuimun, dan Jalur Sukjeongmun yang menawarkan lanskap indah serta pos pengamatan. Kedua jalur ini tidak hanya memberikan kesempatan untuk berolahraga, tetapi juga pengalaman belajar sejarah sekaligus menikmati panorama kota dan alam secara bersamaan. Anda bisa mempertimbangkan mengunjungi tempat ini
Cara bepergian ke Gedung Biru
Perjalanan menuju Blue House bisa dilakukan dengan berbagai moda transportasi, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Lokasinya yang berada di pusat Seoul membuat akses menuju kompleks ini relatif mudah, dengan rute yang jelas dari stasiun-stasiun metro utama serta jalur bus yang melewati kawasan sekitarnya. Mengetahui ini juga akan membantu Anda dalam menentukan anggaran transportasi yang ideal untuk bepergian selama di Korea.
Selain itu, mengetahui rute dan transportasi terbaik sangat membantu untuk merencanakan perjalanan yang efisien. Perencanaan yang matang membuat pengunjung dapat menikmati kawasan sekitar gedung biru dengan lebih nyaman dan waktu kunjungan dapat dimaksimalkan tanpa kebingungan. Terlebih lagi, Anda tidak perlu boros merogoh kocek yang lebih banyak untuk memesan taksi yang relatif lebih mahal dibanding moda transportasi umum lainnya. Selanjutnya, simak panduan menuju lokasi di bagian berikut.
Perjalanan dari Bandara Internasional Incheon
Mengakses Blue House dari Bandara Internasional Incheon cukup mudah bagi wisatawan. Beberapa pilihan transportasi tersedia untuk mencapai pusat kota Seoul, termasuk kereta bandara yang terhubung langsung dengan jalur subway. Perjalanan ini nyaman, efisien, dan memungkinkan pengunjung tiba di kawasan gedung biru dalam waktu relatif singkat. Berikut adalah beberapa caranya jika Anda datang langsung dari bandara.
- Kereta Bandara AREX (Express): langsung ke stasiun Seoul, durasi ±43 menit, biaya sekitar 9.500 KRW (Rp120.000 - Rp150.000)
- Kereta Bandara AREX (All Stop): berhenti di beberapa stasiun, durasi ±56 menit, biaya ±4.750 KRW (Rp60.000 - Rp80.000)
- Subway Seoul: transfer dari AREX ke jalur subway sesuai tujuan, biaya ±1.350–1.550 KRW per perjalanan (Rp17.000–20.000)
Transportasi Umum Menuju gedung biru
Menggunakan transportasi umum adalah pilihan praktis untuk menjangkau Blue House. Subway Seoul menawarkan akses cepat dan nyaman, dengan stasiun terdekat hanya beberapa menit berjalan kaki. Selain efisien, biaya perjalanan juga relatif terjangkau sehingga cocok untuk wisatawan yang ingin berkeliling kota tanpa harus menyewa kendaraan pribadi. Berikut adalah persiapan dan rute tempuh untuk mencapai gedung biru:
- Subway Jalur 3: Stasiun Gyeongbokgung: jarak ±5 menit jalan kaki ke gedung biru.
- Biaya Tiket Subway: ±1.250–1.350 KRW per perjalanan (Rp17.000–18.000)
- Kartu Transportasi T-money: bisa digunakan untuk membayar semua jalur subway, bus, dan beberapa taksi, isi ulang mulai dari ±10.000 KRW (Rp130.000 - Rp150.000)
- Durasi Perjalanan dari Stasiun Seoul: ±15–20 menit tergantung rute dan transit.
Kunjungi Gedung biru sekarang juga bersama dengan Sentosa Wisata
Itulah beberapa fakta yang menarik dan juga cara bepergian menuju Blue House. Kompleks ini saat ini ditutup untuk kunjungan publik, namun Anda tetap dapat mengunjunginya secara singkat saat berkeliling di Korea Selatan. Selain itu terdapat banyak objek wisata yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi di sekitar gedung biru untuk segera bisa Anda jelajahi. Sangat direkomendasikan Anda memiliki agensi perjalanan tepat, untuk dapat mengunjungi semuanya sekaligus.
Tentunya Anda juga tidak perlu bingung dan khawatir dalam mencarinya. Sentosa Wisata siap untuk menemani perjalanan Anda ke Korea dengan mudah praktis, dan tentunya berpengalaman. Terdapat paket tour menuju Korea Selatan termasuk juga mengunjungi gedung biru yang bisa Anda coba ambil untuk menambah pengalaman liburan yang jauh lebih menyenangkan. Tunggu apa lagi? Ayo pesan paketnya sekarang juga di website ini!


